Kalau kamu perhatiin, beberapa tahun terakhir kopi udah bukan cuma sekadar minuman buat ngusir ngantuk. Sekarang kopi udah naik kelas jadi gaya hidup. Nongkrong di coffee shop, cobain origin baru, sampai foto latte art buat story—semuanya jadi bagian dari tren yang nggak ada matinya. uplacecullman
Tapi di balik semua itu, ada satu istilah yang sering banget muncul: kopi specialty. Nah, apa sih yang bikin kopi specialty beda banget dari kopi biasa yang dijual di warung atau supermarket? Apakah cuma soal harga, atau memang rasanya segitu “spesial”-nya?
Secara sederhana, kopi specialty adalah kopi dengan kualitas tertinggi, yang dinilai berdasarkan standar ketat dari Specialty Coffee Association (SCA). Biji kopinya harus mendapat nilai minimal 80 dari 100 dalam uji cupping (tes rasa).
Artinya, mulai dari cara tanam, panen, pengolahan, sampai roasting dan penyeduhan—semuanya harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Nggak ada yang asal.
Kalau ada cacat sedikit aja, nilainya bisa langsung turun dan gagal masuk kategori specialty.
Yang bikin kopi specialty menarik itu bukan cuma rasa akhirnya, tapi juga cerita di baliknya. Setiap cangkir punya perjalanan panjang sebelum sampai ke meja kamu.
Petani kopi specialty biasanya menanam di ketinggian tertentu—biasanya di atas 1.200 meter di atas permukaan laut. Di ketinggian ini, suhu lebih stabil dan pertumbuhan biji jadi lebih lambat, yang justru bikin rasa kopi jadi lebih kompleks.
Mereka juga selektif banget waktu panen. Hanya buah kopi yang benar-benar matang (berwarna merah cerah) yang dipetik satu per satu.
Nggak heran kalau prosesnya memakan waktu lebih lama dibanding kopi komersial yang biasanya dipanen massal.
Setelah dipetik, biji kopi diolah dengan metode tertentu seperti washed, natural, atau honey process.
Setiap metode ngasih hasil rasa yang beda. Misalnya, natural process biasanya punya rasa fruity dan manis, sedangkan washed lebih clean dan bright.
Roaster punya peran penting banget. Mereka harus ngerti karakter setiap origin—entah itu kopi Gayo, Flores, atau Ethiopia—dan menyesuaikan level roasting-nya supaya cita rasanya keluar maksimal.
Satu detik aja kelamaan di roaster bisa bikin rasa jadi gosong dan nutty-nya hilang.
Biar lebih gampang, ini perbandingan singkatnya:
| Aspek | Kopi Specialty | Kopi Biasa |
|---|---|---|
| Kualitas biji | Grade tinggi (tanpa cacat) | Banyak cacat dan campuran |
| Proses panen | Manual, selektif | Massal |
| Rasa | Kompleks, bersih, khas origin | Pahit, flat |
| Harga | Lebih mahal, sebanding dengan kualitas | Lebih murah tapi kurang karakter |
Kalau kamu baru pertama kali nyoba kopi specialty, jangan heran kalau rasa yang muncul bukan cuma “pahit”.
Bisa jadi kamu nemuin aroma bunga, rasa buah tropis, atau aftertaste cokelat. Semua tergantung dari origin dan prosesnya.
Misalnya:
Yang bikin seru, dua biji dari daerah sama bisa punya rasa beda kalau diproses dengan cara berbeda. Jadi selalu ada pengalaman baru di setiap cangkir.
Pertanyaan klasik yang sering muncul: “Ngapain bayar Rp50 ribu cuma buat secangkir kopi?”
Jawabannya sederhana: pengalaman dan kualitas.
Kopi specialty bukan cuma soal rasa, tapi juga soal cerita, transparansi, dan keberlanjutan.
Dengan kata lain, kamu nggak cuma beli kopi—kamu ikut menghargai proses dan orang-orang di baliknya.
Sekarang udah banyak banget coffee shop di Indonesia yang fokus ke kopi specialty. Mulai dari brand besar sampai kedai kecil yang tersembunyi di gang, semuanya punya misi yang sama: bikin orang paham dan menikmati kopi dengan cara yang lebih mindful.
Beberapa nama yang cukup dikenal di dunia specialty coffee Indonesia antara lain:
Kedai-kedai ini bukan cuma jualan kopi, tapi juga edukasi. Mereka sering adain cupping session, kelas brewing, atau workshop buat pemula.
Generasi muda, terutama Gen Z dan milenial, punya peran besar dalam naiknya tren kopi specialty.
Mereka lebih peduli sama asal produk, keberlanjutan, dan cerita di baliknya.
Nggak heran kalau tren seperti manual brewing, single origin, dan latte art makin populer.
Buat mereka, minum kopi bukan cuma rutinitas pagi, tapi bagian dari identitas dan ekspresi diri.
Kalau kamu pengin coba tapi males keluar rumah, sekarang banyak brand yang jual kopi specialty dalam bentuk biji atau drip bag.
Kamu bisa seduh sendiri pakai V60, Aeropress, atau French Press.
Tips kecil biar hasilnya maksimal: